Tampilkan postingan dengan label cERpeN gUe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cERpeN gUe. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2009

Perasaan Musim Semi itu

“Ra…bangun, bangun. Sudah waktunya pulang sekolah, nih.”

Terdengar samar – samar, tapi aku mengerti suara itu bukan mimpi. Secara reflek aku langsung bangun. Dan langsung memasukkan buku – bukuku ke dalam tas. Suasana kelas sudah sepi kecuali Agi yang membangunkanku tadi masih ada di kelas tepatnya dia berdiri di dekatku menungguku membereskan buku – bukuku.

“Tumben hari ini kamu ketiduran?”Tanya Agi yang terlihat heran dengan sikapku sedari tadi yang terlihat nggak bersemangat sama sekali sepanjang pelajaran. Dan akhirnya tertidur saat pelajaran terakhir.

“Tadi, apa Pak Beni tahu aku ketiduran?”

“Ya, Pak Beni, sih, tahu. Tapi, kamu dibiarin aja ketiduran. Kamu, kan, anak kesayangan guru. Nggak perlu ikut pelajaran satu jam aja, nggak bakal nyusahin kamu. Karena dari sananya udah keturunan Albert Einstein.”

“Apaan, sih. “

Dengan wajah masih terlihat mengantuk, aku bergegas pulang bersama dengan Agi. Sepanjang perjalanan pulang siang itu, Agi terus ngomong. Yang itulah, yang inilah. Dan paling banyak soal gosip di sekolah. Karena dia biangnya ngegosip. Aku hanya dengerin aja. Tapi, dengan begitu sepanjang perjalanan pulang nggak terasa sepi.

“Kamu enak, ya. Segalanya udah diaturin. Kamu, kan, setelah keluar dari sekolah, direkomendasikan sekolah keluar negri. Kemana, tuh?”

“Ke mana apanya?”

“Ya dikirim ke universitas mana?”

“Rahasia.”

“Apa – apaan, tuh. Main rahasia – rahasiaan segala.”

“Biarin.”

Bukannya sombong, tapi aku termasuk siswa teladan di kotaku. Walau begitu, aku selalu merasa biasa – biasa saja. Tapi, walau begitu aku bersyukur akan apa yang telah diberikan Tuhan padaku.

Namun, belakangan ini ada satu hal yang mengganjal di pikiranku. Walau terlihat dari luar aku selalu bersikap seakan tak ada apa – apa padaku. Tapi, dalam hati aku merasa kesepian. Bukan karena jauh dari ibu karena saat ini aku “nge-kos”. Satu hal yang kupikirkan, ada satu hal yang terlewatkan selama dua tahun lebih ini.

Aku termasuk anak yang kurang mampu, tapi, karena beasiswa, aku dapat masuk ke sekolah ini. Aku bersyukur sekali, bisa membuat ibu senang.

Impianku sudah terencana. Segalanya untuk belajarku selanjutnya sudah ditentukan. Dan karena itu pun semua orang bangga padaku. Teman – temanku pun banyak. Semua baik padaku. Tapi, tetap saja aku merasakan seperti ada yang kurang.

Ujian akhir sekolah tinggal dua minggu lagi. Dan hari demi hari itu tentu aku sangat sibuk. Aku lebih banyak mempersiapkan segalanya untuk ujian itu. Tak ada hal lain yang aku pikirkan. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Entah itu apa, aku selalu merasa ada yang kurang.

Dan hari ujian tiba. Selama seminggu aku menjalani ujian, aku merasa tak ada beban. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan ujian dengan lancar.

Hari ini aku buru – buru pulang sekolah. Ingin cepat bertemu ibu, karena semalam ibu menelepon akan berkunjung ke tempat kosku.

Pulang sekolah aku cukup dengan jalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat “kos – kosan”aku biasanya mampir ke taman kota. Biasalah sekedar istirahat. Tapi sepertinya untuk hari ini tidak bisa.

“Maaf, ya. Untuk hari ini aku nggak bisa mampir,”Ucapku dalam hati saat melintasi taman kota. Ya, mau bagaimana lagi. Karena ada seseorang yang sedang menungguku pulang.

“Ibu!,”Panggilku. Aku langsung memeluk ibuku.

“Bagaimana di sekolah,”Tanya ibu yang sedang duduk di kursi dekat tempat tidur.

“Aku kangen ibu,”Ucapku tanpa memperdulikan pertanyaannya.

“Kamu itu, ya. Nih, ibu bawakan makanan buat kamu. “

“Makasih, bu,”Ucapku dengan senang, yang masih memeluk beliau.

Malam ini aku merasa senang sekali. Itu karena ada orang yang menemaniku. Tadi siang aku ngobrol banyak tentang sekolah pada ibu. Malamnya ibu buatin aku makanan. Karena di tempat kos – kosan ini juga ada dapur di setiap kamar.

Malam ini setelah makan malam, kami duduk di luar beranda. Untungnya tempatnya nggak begitu sempit. Dan lagi umumnya yang “ngekos” di sini masih pelajar jadi sudah pada tidur.

“Bu! Mbak Risa bagaimana kabarnya.”

“Baik, kok. Tapi, yang penting kamu baik – baik saja, kan, di sini?”

“Iya…,”Jawabku dengan senang. Karena merasa malam ini aku nggak sendirian jadi seneng banget.

Aku tidur – tiduran di pangkuan ibu. Tangannya yang halus membelai rambutku. Sambil memandang ke atas langit. Kulihat bintangnya banyak banget yang terlihat malam ini. Karena biasanya nggak kelihatan sebanyak ini.

“Ara ! Bintangnya banyak, ya?”

“Iya, banyak…….. banget.”

“Langitnya jadi terang.”

“Tentu saja, kan, Bu. Bintangnya, kan, banyak.”

Suasana hening di depan beranda. Dingin tapi tetap saja tak bisa mengalahkan perasaanku yang senang sekali ini. Karena bisa bertemu ibu yang beberapa bulan tak bisa bertemu.

“Kamu udah terlihat dewasa, ya?”

“Dewasa apanya kalau masih dibelai ibunya begini.”

“Dewasa itu tidak berarti tidak boleh mendapat belaian dari ibunya, kan?”

Benar juga. Nggak ada hubungannya, sih. Aku pun melihat kembali melihat bintang – bintang itu.

“Manusia bertambah dewasa dengan pengalaman yang diperolehnya. Bukan hanya pengalaman yang menyenangkan saja, pengalaman sedih dan sulit, bahkan yang bagi manusia tidak ada artinya pun menjadisesuatu yang dapat membuat kita semakin dewasa.”

Aku mendengarkan kata – kata ibu. Memang benar, selama ini aku sudah menjalani berbagai macam pengalaman.

“Jadi, kamu sudah sejauh ini, tentu banyak pengalaman yang kau dapatkan. Tapi, hidupmu masih panjang. “

Lagi – lagi ibu berhenti berbicara seraya membelai rambutku, beliau tersenyum.

“Impian seseorang itu seperti bintang di langit. Tidak terbatas jumlahnya dan terbentang luas. Tapi, kamu harus tahu, tidak ada mimpi yang bisa dicapai dengan mudah. Tidak ada orang yang bisa mendapatkannya dengan mudah. Siapapun juga pasti merasakan penderitaaan dalam mengejar mimpi mereka.”

Aku memandang ibu.Kata – kata itu membuatku tersentuh. Aku jadi terperangah mendengarnya. Seraya membelai rambutku, ibu memandangku dan beliau tersenyum padaku.

“Ibu selalu berpikir, impianmu itu pasti akan terwujud.”

Mendengar kata – kata ibu, tak terasa air mataku menetes. Aku tak tahu lagi bagaimana aku tanpa ibu. Aku sangat bersyukur hari ini ibu bisa datang. Aku pun langsung bangun dan memeluk ibuku.

“Benar. Aku pasti mampu melakukannya,” Ucapku dalam hati.

Dua tahun telah berlalu. Dan umurku sudah sembilan belas tahun. Tak terasa sudah selama ini.

Malam ini seperti biasa terlihat bintangnya bertaburan. Dan di luar dingin sekali. Aku memakai jaket tebal dan topi yang menutupi telingaku juga. Sambil duduk – duduk di kursi aku menghidupkan hpku.

“Assalamu alaikum,”Salamku pada seseorang yang kutelepon.

“Waalaikum salam. Malam – malam begini, kok, belum tidur?”

“Ibu lupa, ya. Di sini, kan udah subuh.”

“Masa. Aduh ibu lupa. Jadi gimana kabarnya di sana?”

“Alhamdulillah baik Bu. Ibu juga di sana baik, kan?”

Dua tahun telah berlalu, aku berada di sini. Bulan ini bulan november. Setelah Hari raya kemarin aku belum bertemu Ibu. Tentu saja aku kangen banget.

Bulan November di Jepang sedang musim dingin. Di Tokyo saat musim dingin suhunya bisa mencapai lima derajat celcius. Tapi, itu masih relatif ringan. Di daerah selain Tokyo yang bagian barat pulau Jepang suhunya bisa mencapai minus empat. Tapi, untung aku berada di Tokyo.

Aku diterima di universitas Tokyo. Sejak duatahun lalu, tak terasa sudah lama sekali. Saat aku dinyatakan lulus dan langsung dikirim ke sini.

Di sini aku tinggal di asrama. Bersama yang lainnya, aku memiliki teman yang juga dari Indonesia. Tapi, aku kangen juga dengan Agi. Aku jadi ingat semasa SMA dulu. Ya, itu tentunya kenangan yang nggak bisa aku lupakan.

Malam ini karena sedang libur musim dingin, aku sempatkan bersama temanku untuk berjalan – jalan. Asramaku berada di perfektur Yokohama. Jadi kalau ke Tokyo tinggal naik kereta. Tapi, hari ini kami akan melihat festival di jalanan utama Susukino. Sepanjang jalan Susukino kita bisa melihat ratusan patung – patung salju dan pahatan es yang indah. Walau dingin tapi banyak juga orang – orang yang menyaksikan karena ini festival terbesar yang dirayakan setiap setahun sekali di Jepang. Selain di jalan utama Susukino ada juga di taman Odori dan lapangan di Satoland. Festival ini pun berlangsung selama tujuh hari.

“Seandainya ibu bisa ke sini,”Pikirku yang lagi kangen ibu. Aku melamun sejenak. Melihat aku yang melamun temanku Ai menyapaku.

“Doo arimashitaka (Ada Apa) ?”

“Kamaimasen(Tidak apa – apa),”Jawabku yang langsung menyadari keberadaannya yang sepertinya mengkhawatirkan aku yang diam sejak tadi. Aku langsung menarik tangannya dan mengajaknya berjalan – jalan kembali.

Aku jadi ingat saat Di SMA . Ada perasaan yang sepertinya terus aku ingat. Aku jadi ingin perasaan itu hadir di sini. Perasaan menyukai seseorang. Aku sadar akan hal itu. Jika berpikir hal itu. Aku jadi tersenyum sendiri. Sering aku ceritakan pada ibu. Ibu selalu berkata “Berdoa saja. Pasti kamu akan menemukannya”. Itu jadi membuatku sering melamun terus. Tapi nggak terlalu sering. Hanya saja kadang datang.

“Kyoo wa samui desune(Hari yang dingin, ya),”Tanya Ai tiba – tiba.

Aku memandanginya. Kulihat dia gemetar karena kedinginan.

“Chotto o-machi kudasai (sebentar),” Ucapku yang langsung pergi.

Aku bergegas ke mini market. Aku bermaksud tuk beli minuman hangat. Setelah membelinya aku bermaksud kembali. Aku berjalan dengan terburu – buru. Tanpa kusadari sebuah sepeda melintas di depanku dan hampir aku menabraknya. Aku tidak apa – apa tapi orang yang naik sepeda tadi terjatuh. Aku langsung mendekatinya.

“Shitsurei shimasu(Maaf),”Ucapku yang langsung membantunya berdiri.

“Tak apa,”Jawabnya seraya menghilangkan salju di kepalanya.

“Anda bisa bahasa Indonesia,”Tanyaku yang agak kaget.

Dia langsung menoleh ke arahku. Terlihat banget wajahnya kaget ketika melihatku.

“Kenapa? “

“Ara!”

“Dari mana kamu tahu namaku?”

Aku kaget ketika dia memanggil namaku. Padahal bertemu saja tidak pernah.

Besoknya, aku bertemu dia sekali lagi. Kali ini di kampus. Ternyata dia satu kampus denganku. Kami pun ngobrol bareng di cafe.

“Jadi kamu dulu sekolah yang sama denganku, begitu?”Tanyaku tidak percaya.

“Ya, begitulah. Saat itu aku ikut ayah yang ada di Indonesia. Karena ayahku asli Indonesia. Aku juga sering dengar namamu. Kamu, kan, anak yang dapat beasiswa sekolah di sini. Teman – temanku sering membicarakan tentang kamu. Jadi aku tahu kamu,”Jelasnya.

Sejak saat itu aku jadi sering ngobrol dengannya. Paling sering, sih, ngomong soal dia. Namanya Zakkilamsyah. Baru saja jadi mualaf bersama ibunya yang asli orang Jepang karena sang ayah beragama islam. Kami juga sering pergi jalan – jalan. Seringnya, sih, kami pergi sama teman. Biar rame.

Sekarang bulan Mei. Musim semi cepat juga datang. Alhamdulillah di sini aku lebih bisa beradaptasi dengan baik. Aku lebih sering berkomunikasi dengan ibu.

Jam tiga aku sudah pulang dari kampus. Tapi, aku ingin mampir sebentar di taman Odori. Bulan ini pohon cerinya mekar. Aku ingin sekali melihatnya.

Di taman Odori sore ini cukup ramai. Banyak yang menggelar tikar di bawah pohon Ceri. Cuacanya juga masih agak dingin. Aku memakai jaket yang tipis.

Aku duduk di atas rumput. udaranya sejuk. Aku langsung mengambil kotak makan siangku yang sengaja kusisakan untuk even – even seperti ini. Seraya memandangi bunga sakura yang mekaraku memakan nasi kepal yang dibuatkan temanku, karena aku nggak ahli dalam membuat nasi kepal dan juga nggak sempat membuat makan siang. Tapi kenyataannya aku memang nggak sempat membuat bekal, jadi temanku memberikan nasi kepal.

“Hai!,”Sapa seseorang yang tiba – tiba muncul di depanku.

“Zakki.”

Nggak nyangka di saat – saat seperti ini malah bersama dengan Zakki. Tapi, aku senang karena ada yang nemenin. Daripada sepi, juga nggak enak.

“ Sakura wa ima mankai desu(Sekarang bunga sakura mekar).”

“Ya. Ima wa haru desu ne(sekarang, kan musim semi).”

Anginnya meniup dengan lembut. Bunga sakura berjatuhan tepat di bawahku. Aku jadi hanyut dalam suasana ini.

“Kamu tahu. Saat – saat seperti ini sudah lama aku tunggu.”

‘Maksudmu?”

“Sudah lama aku mencarimu, sejak aku mengenalmu saat di SMA dulu, walaupun kamu nggak mengenalku. Aku selalu melihatmu di sekolah, saat kamu ketiduran di kelas saat pelajaran, dan saat kamu ngobrol dengan Agi.”

“Tunggu! Kok, kamu tahu Agi?”

“Maaf aku belum cerita soal itu. Agi itu saudara sepupuku. Lebih detailnya adik sepupuku.”

Mendengar jawabannya kontan aja aku kaget setengah mati. Aku nggak menyangka Agi punya saudara jauh di Jepang.

Dia menceritakan semua tentang aku bagaimana aku di sekolah hampir semua hal tentang aku dia tahu. Ternyata Agi sering menceritakan tentang aku padanya.Diapun menceritakan tentang dirinya.

“Sebenarnya aku pindah ke Indonesia karena aku putus asa bisa bersekolah di sini. Aku merasa aku tidak pantas bersekolah di sini hanya karena saat itu aku tidak bisa berbahasa Jepang. Karena sejak kecil aku lebih lama di Indonesia. Tapi, sejak bertemu denganmu. Pandanganku akan hal itu, berubah. Kamu yang terlihat berusaha demi mencapai impianmu untuk bisa kuliah. Kamu berusaha keras untuk itu. Aku tahu sambil sekolah kamu juga kerja sambilan di toko buku sebagai kasir. Dan sering pula kamu ketiduran saat pelajaran sekolah berlangsung. “

Dia berhenti berbicara. Sampai detik ini aku masih tidak percaya akan ceritanya. Aku hanya terpaku akan keadaan dan tetap terdiam.

“Tapi karena itulah aku merasa ada sesuatu yang tidak membuatku lari lagi dari kenyataan. Dan mulai saat itu aku pun berusaha sepertimu. Berusaha untuk tidak lari lagi. Aku jadi punya keinginan untuk menyusulmu ke sini. Dan akhirnya keinginan itu tercapai. Sampai aku bertemu denganmu saat kecelakaan itu.”

“Jadi, kamu….”

“Benar. Sejak lama…aku…suka…Ara, kok?” Ucapnya terdengar gagap. Tapi, aku melihatnya yang tersenyum padaku.

Sesaat aku terperangah. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tapi, aku tidak ingin membuatnya sedih. Aku pun tersenyum padanya dan pandanganku kualihkan pada bunga sakura di atasku. Bunganya berjatuhan tertiup angin. Ibu terima kasih. Tuhan terima kasih. Semuanya terima kasih. Sampai saat ini aku berusaha mewujudkan impianku. Dan hari ini aku dapat berguna bagi seseorang. Keinginanku mewujudkan mimpiku tersalurkan pada seseorang yang hampir putus asa. Dan hari ini, tahukah ibu. Perasaan yang kuinginkan datang juga. Perasaan yang selalu kupikirkan saat SMA sampai sekarang itu. Hari ini, di musim semi, akhirnya, aku dapat merasakan perasaan ini. Perasaan pertama kali jatuh cinta. Di sini di bawah pohon Sakura perasaan itu akhirnya datang. Dan dia datang, bukan dariku malah sebaliknya, dari orang lain. Perasaan terhadapku yang aku peroleh saat ini.

Sembari tersenyum memandang bunga sakura,diapun ikut tersenyum. Memandang sakura yang berterbangan dengan indahnya. Bulan ini ternyata musim semi yang indah.

By : Widyas

Sabtu, 17 Januari 2009

MALAM TAK SELAMANYA KELAM

Kubolak – balik kartu undangan di meja kerjaku, tertulis dengan jelas nama seseorang yang pernah singgah di hatiku beberapa tahun yang lalu. Aku tidak bisa menyalahkan Nina jika dia telah memilih pendamping lain. Karena pada waktu itu aku sendiri masih dalam masa pendidikan, aku tak mungkin mengajak menikah secepat itu. Kini pendidikanku sudah selesai dan aku diperbolehkan pulang. Aku kecewa karena aku gagal dalam mempertahankan Nina. Dengan langkah pasti aku datang di pesta pernikahannya. “Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga bahagia selamanya”, ucapku sambil kujabat tangan mereka berdua. Dan aku pergi dengan langkah kecewa. Semenjak itu hari – hari yang kulalui terasa sepi dan hampa. Semuanya serba hambar dan tak terasa waktu sudah empat tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakannya. Tiba – tiba brak… di depanku ada kecelakaan, kutolong dan kupapah di ke pinggir ternyata dia langsung pingsan. Tanpa buang waktu langsung kubawa ke rumah sakit dari KTPnya kuhubungi keluarganya kemudian aku tinggal kerja dan pulangnya aku tengok barangali dia belum pulang. Eh benar dia masih terbaring. “Kau tak apa – apa Sofia?”, kataku. “Tidak, kok tau namaku?’”, jawabnya. “Iya dari KTPmu”, kataku. Kemudian aku tak bertemu lagi. Kira – kira seminggu kemudian aku ingin bertemu dengan dia dengan sekedar iseng aku lewat depan kampusnya. Kulihat dia berjalan – jalan tapi tertatih – tatih dengan dua tongkat di tanannya dan masuk pada sebuah mobil, lalu kuiikuti dari belakang dan aku ingin tau siapa pak sopirnya. Sampai di rumah dia dibantu mamanya turun, ternyata sopir pribadi keluarganya. Jadi aku langsung masuk saja. “Sofia”, sapaku. Oh mas Dika masuk yuk..!. “Mam ini Mas Dika yang menolongku tempo hari”, katanya memperkenalkan pada mamanya. “Masih sakit kok kuliah”, kataku. Sebenarnya hari ini waktu kontrol, tapi aku lagi ujian, “Besok aja kontrolnya”, jawabnya. “Bagaimana kalau besok kuantar”, kataku. “Nanti merepotkan”, jawabnya. “Nggak ada yang cemburu?”, godaku. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sejak saat itu aku dan dia berteman serta aku juga menjalin hubungan denganku.

SEBUAH TRAGEDI

Siang itu udara terasa panas aku duduk – duduk di bebatuan sambil kutenggelamkan kakiku di air. “Ah pantai pasir putih”, begitu banyak kenangan maniskudengan seorang dara. Namun di sini pula aku berpisah, yach…dimana kedua orang tua kita saling menentang adanya perbedaan agama diantara kita. Pada waktu itu kau mengangis di pelukanku, karena kamu diajak pindah oleh kedua orang tuamu. Sampai kini aku tak tahu dimana rimbanya tiba – tiba. “Mas saya minta tolong “, sapa seorang gadis yang mengagetkanku. Aku mengernyitkan dahiku sambil memandang kelima gadis itu. “Tolong apa?”, kataku tak mengerti. “Gini kami tadi habis jalan – jalan terus mau pulang ternyata tas saya hilang beserta dompenya”, kata salah satu dari mereka. “ Kalian minta diantar pulang?”, kataku. “ Bukan – bukan begitu, tolong hubungi keluarga saya biar mereka saja yang menjemput kami di sini”. Kata mereka. “Baiklah berapa nomornya?”, kataku sambil mengeluarkan Hpku. Setelah kuhubungi keluarganya, baru kelima cewek itu pergi. Tak lamapun aku beranjak pergi, tapi kulihat kelima gadis itu masih belum pulang, lalu kuhampiri. “ Belum dijemput?”, kataku. Mereka menggeleng. “Boleh kutemani ?”, kataku. Dan mereka mengangguk. “Bagaimana kok sampai di sini?”, tanyaku. “Kami tadi kesini karena undanganku, hari ini adalah ULTAH-ku mereka kuajak makan – makan di sini. Setelah bayar makanan aku ke toilat dan disana tasku hilang”, katanya. “Siapa yang berulang tahun?”, tanyaku. “Winda”, jawab mereka serempak. “Kalian masih sekolah?’, tanyaku. “Ya baru semester satu”, jawab Winda. Tak berapa lama kemudian jemputan datang. “Terima kasih Mas”, kata mereka sambil beranjak pergi. Besoknya aku ketemu Winda lagi,. Tapi di kampus dia kaget, aku juga. “Jadi ternyata kita satu kampus?’, tanyaku. Dia tersenyum malu. “Nggak minta tolong lagi?”, godaku. Dia mendelik sambil memukulku. “Kamu jahat”, katanya manja.

HATI YANG SEMAKIN KELAM

Aku kenal Beni itupun dari teman – temanku dan dari perkenalan itu terjadilah suatu hubungan yang manis dimana benih – benih cinta itu tumbuh di hati kami. Cowok itu mampu memberiku ketegaran saat aku terombang – ambing. Ternyata masih ada juga cowok yang baik mau mengerti perasaanku ini. Namun kebahagiaan itu tak lama, karena impian itu sudah hilang ditelan waktu. Akhirnya harus kuterima lagi luka yang kesekian kalinya. Kadangaku tak mengerti kenapa aku harus mengalami luka dan luka lagi. Ya...Tuhan apa dosaku hingga aku seperti ini. Waktu terus berlalu aku tak boleh menyesali apa yang sudah terjadi pada diriku. “Tania!”, sapa seorang cewek dari belakang. Aku menoleh. “Tania ya? ”, katanya meyakinkan. “Iya kau Nena kan?”, balasku. Lalu kami saling berpelukan. “Bagaimana kalau kita minum-minum dulu?”, ajak Nena. “Okelah”, jawabku mengiyakan. “Tania kau masih kenal Beni?”, Tanya Nena. “Tak usah mengingatnya lagi”, pintaku. “Tapi dia kemarin kerumahku dan ingin minta maaf padamu”. Sebenarnya dia itu masih saying padamu dan sekarang dia merasa sangat bersalah”, katanya. “Lalu kenapa dia pergi meninggalkanku?”, tanyaku. “Dia pergi karena tergoda oleh teman adiknya yang cantik, tapi katanya tak sebaik kamu, makanya dia sampaikan ini dulu padaku. Karena ia takut kau tak mau menerimanya lagi”,kata Nena. Aku menarik nafas berat, “Ah…Beni kelak melindungiku”. Setelah mendengar pengakuan dari Nena Kini sedikitpun aku tak merasakan getar – getar indah seperti dulu, hatiku semakin beku dan membatu.

HARAPAN YANG TERLALU DINI

Aku sebagai anak ingusan ingin bercinta seperti kakakku, yang begitu mesra dan bahagianya mereka. Pernah pada suatu hari kutanyakan pada kakakku. “Kak Santi rasanya orang dicintai dan mencintai ?”, kataku. Kakakku tersenyum. “Jangn berpikir kesitu dulu, kamu masih kecil”, jawabnya. “Kakak meremehkan aku ya..”, rengekku. “Tidak Dinda semua orang berhak mendapatkan cinta, tapi tidak sekarang kamu masih kelas II SMP masih terlalu dini soal itu”, kata kakakku yang sudah kuliah itu. “Tapi kak aku sudah mendapatkan surat cinta nih buktinya”, kataku. “Kamu!”, kakakku terperanjat. “Bolehkah aku mencobanya biar seperti kakak?”, kataku. “Orang berpacaran tidak cukup hanya dengan saling mencintai lho Din, tapi banyak”, kata kakakku. “Makanya sambil diajarin”, belaku. “Tapi resiko sakit hati tanggung sendiri lho ya?”, kata kakakku. “Beres deh kak”, jawabku sambil tertawa. Kini hari – hari yang kulalui bersama Dino begitu indah. Dimana debaran- debaran jantung selalu menyertaiku. Setelah cinta semakin lekat tiba – tiba itu yang membuatku takut kehilangan dia. Hingga kalau Dino lagi berbincang – bincang atau sedang berjalan dengan gadis lain hatiku sakit, dan itu yang tak bisa kutahan lagi. Ini yang sering membuatku sering bertengkar. “Kamu terlalu cemburu Din, tolong berpikirlah yang sehat”, pintanya dimana saat itu aku lagi bungkam beberapa hari dengan Dino. Karena kulihat dia memboceng gadis lain. “Nah…apakah aku tak boleh marah, tak boleh cemburu”, gumamku. Ternyata benar kakakku cinta membutuhkan segalanya, selain kasih saying, kesetiaan juga pengorbanan dan segala macam. Akhirnya kutinggalkan juga Dino dengan sejuta luka di hatiku. Benar kakakku, aku belum cukup dewasa untuk kesana.

Jangan Menangis Lagi

Aku termasuk gadis yang tak mudah jatuh cinta atau karena aku takut kecewa, sakit hati dan lain sebagainya, pokoknya yang berhubungan dengan dengan cinta. Namun entah kenapa sejak kehadiran David, bisa mengubah segalanya. Dalam waktu singkat dia bisa memikatku, itu gara – gara kutemukan catatan yang terselip diantara buku – buku yang kupinjam darinya. Ternyata dia memiliki cewek lain yang bernama Rafika. Akhirnya apa yang kutakutkan selama ini telah terjadi. Tapi aku harus menyembunyikan perasaan ini. Apalagi akhir – akhir ini David juga jarang menemuiku, jadi aku piker dia sudah kembali pada Rafika. Akhirnya harus kupupus semua rindu yang menggayut di relung hatiku meskipun kurasakan sakit. “Hi Tin melamun ya?”, suara Febi adiknya Kak David membuyarkan lamunanku. “Ah kamu ini”, kataku. “Kak David mana ?”, tanyanya. “Maaf Feb mungkin dia sudah memilih Rafika”, jawabku. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh juga. “Tunggu disini ya Tin”, katanya sambil berlari. Tak lama kemudian kulihat Febi membawa David ke arahku. Ia terus menatapku tapi aku tak berani membalasnya aku malu karena ketahuan aku sedang menangis hatiku mengumpat Febi habis – habisan, “Tolong Feb tinggalkan kami berdua”, kata David. Jantungku semakin berdegup kencang. “Oh ternyata kau bisa menangis, kau bisa cemburu, kukira hatimu sekeras batu”, katanya sambil tersenyum. “Baiklah akan kujelaskan, sebenarnya Rafika itu nama yang kubuat – buat, orangnya tidak ada itu kulakukan karena aku ingin tahu jawaban darimu”, kata David sambil merengkuh bahuku.